Mi Familia Story (Part 1: Alvera)

PhotoGrid_1549255257275.png

Perkenalkan, nama saya Alvera. Saya anak pertama dari tujuh bersaudara. Ayah saya adalah seorang pedagang, penyuplai, pemasok kain kiloan. Kalau kalian butuh bakal kain, mau beli berapa kilo atau berapa meter, datang saja ke Pasar Induk Raya. Nama tokonya Toko Mi Familia Vertebrata, letaknya bersebelahan dengan toko emas Jang Gung Suk dan toko kerudung Habibi Nurul Ain. Ibu saya sehari-hari bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga. Tapi pada saat-saat tertentu ibu saya juga sering datang ke toko ayah saya, membantu beliau di meja kasir.

Kalian pasti bertanya-tanya soal nama toko kain ayah saya yang terkesan asing. ‘Mi Familia Vertebrata’. Apa-apaan dengan nama itu? Absurd sekali. Serasa berada di dalam kelas Biologi ya karena ada kata ‘vertebrata’-nya?

Mi Familia diambil dari bahasa Spanyol, artinya ‘keluargaku’. Sedangkan vertebrata itu ayah saya asal comot saja. Padahal artinya ‘hewan bertulang belakang’ ya. Ayah saya memang begitu orangnya, sulit diikuti permainan pikirannya. Tapi kalau penggunaan bahasa Spanyol itu ada alasannya.

Jadi begini, ayah saya itu sejak dulu senangnya mengungkit-ngungkit asal-usul keluarganya. Ayah saya bilang, kakek buyutnya adalah orang Spanyol yang ikut bersama rombongan ekspedisi pencarian rempah-rempah ke Nusantara pada abad ke-16. Entah bagaimana ceritanya, mungkin kakek buyut ayah saya (kakek buyut saya juga sih berarti) bertemu nenek buyut ayah saya saat mereka melakukan transaksi jual beli rempah-rempah di Maluku pada masa itu. Ayah saya juga tidak tahu bagaimana ceritanya kakek buyut yang orang Spanyol itu bisa menikah dengan nenek buyut dan menetap di Nusantara. Apakah mereka menikah diam-diam, atau berdasarkan persetujuan, tidak ada yang tahu. Jadi begitulah ceritanya. Kakek buyut saya adalah orang Spanyol dan nenek buyut saya orang Maluku.

Puluhan tahun kemudian, pada masa penjajahan Belanda, kakek buyut generasi keempat–kalau tidak salah–bertransmigrasi dari kepulauan Maluku ke pulau Jawa. Tidak, kakek buyut yang itu tidak lantas menikah dengan noni-noni Belanda. Tidak ada pernikahan lintas bangsa lagi setelah itu (walaupun sebenarnya tidak ada yang tahu, bisa saja kan ada bagian dari sejarah lisan ini yang terselip?)

Tiga ratus tahun kemudian, pada masa penjajahan Jepang, kakek saya–ayahnya ayah saya–bekerja dengan orang Jepang, menjadi salah satu juru masak mereka. Maka kakek saya ikut ke mana pun pasukan Jepang itu pergi. Bahkan waktu itu kakek saya yang masih muda belia dan polos menurut saja saat mau dibawa ke Jepang oleh salah seorang atasannya. Tapi akhirnya kakek saya mengikut pasukan itu pindah dari pulau Jawa ke Sumatra. Setelah Indonesia merdeka, kakek saya menikah dan menetap di Sumatra. Tak lama setelah itu berganti lagi generasi, ayah saya lahir. Dan sekarang ayah saya sedang berjualan di pasar, mencari nafkah untuk ibu saya dan saya, serta adik-adik saya.

Aroma-aroma Spanyol tidak hanya terhenti di toko kain ayah saya, tapi di keluarganya juga. Nama anak-anak ayah saya semuanya diambil dari bahasa Spanyol. Dimulai dari saya, Alvera; adik saya, Alfaro; kemudian ada Alfonso; Marisela; Alfredo; Alonso; dan yang terakhir Alvino. Sayangnya hanya nama kami saja yang ke-Spanyol-Spanyol-an. Tapi wajah kami wajah Indonesia asli semua.

Herannya rupa ayah saya memang terkesan ‘bule’ secara umum. Tidak hanya ayah saya, saudara-saudara ayah saya yang seayah dan seibu juga. Brewok mereka turut menjadi kekhasan yang biasanya dimiliki orang sana. Tapi ayah saya dan paman-paman saya belum ada apa-apanya dibandingkan paras kakek saya. Terkadang saya berpikir, jangan-jangan yang orang Spanyol asli bukanlah kakek buyut generasi abad ke-16, melainkan kakek saya sendiri.

Mungkin kalau kami tidak ditakdirkan berhubungan darah, saat saya bertemu kakek saya di jalan, saya pasti akan mengira kakek saya sebagai bule Spanyol. Asalkan kakek saya tidak bicara, ya. Soalnya logat kakek saya saat berbicara itu seperti orang Jawa berbicara bahasa Jepang–atau orang Jepang berbicara bahasa Jawa. Medhoknya terasa, aksen Jepangnya juga jelas. Sulit mendeskripsikannya. Kalau tidak terbiasa mendengar kakek saya bicara, tentu akan merasa lucu dengan aksen beliau yang campur-campur itu. Ternyata berpisah lama dari Jawa dan Jepang tidak lantas memudarkan cara bicara dan pelafalan kata-katanya.

Gen mirip Spanyol hangus di garis kelahiran ayah saya dan saudara-saudaranya. Saya, adik-adik saya, dan sepupu-sepupu saya tidak ada yang 70% mirip mereka. Apalagi saya. Mau diam, mau bersuara juga, sudah bakal ketebak kalau saya orang Indonesia. Bedanya sedikit… di wajah saya–di antara bekas-bekas jerawat ini, di punggung tangan, dan punggung kaki saya… ada bintik-bintik kecoklatan yang terlihat samar karena beradu dengan warna coklat susu kulit saya. Apa ya itu namanya–freckles? Semacam itulah. Tapi saya ingat, yang punya freckles biasanya orang berambut merah, akibat sering panas-panasan di bawah sinar matahari. Mana ada hubungannya dengan darah Spanyol milik kakek buyut. Sudahlah lupakan saja itu. Saya punya freckles mungkin karena memang suka menantang matahari.

Tapi meskipun tidak kebagian gen mirip Spanyol, saya tentu tetap bersyukur. Memangnya kalau punya wajah mirip Spanyol apa yang mau saya banggakan? Bahkan kakek buyut saya yang orang Spanyol saja kesengsemnya pada nenek buyut saya yang orang Indonesia. Hehe. Hehe. Hehe. Hehe. Hehe.

“Vera, Vera lagi nulis apa?”

Aku tersentak saat tiba-tiba Dyah, teman dekatku, menyembulkan kepala dari arah belakangku. Aku buru-buru menutup buku catatanku, lalu merapikan alat-alat tulisku. Aku malu kalau Dyah sempat membaca tulisanku. Tulisanku random dan tidak jelas soalnya. Itu tadi masih mendingan, yang kutulis bukan cerita fiksi. Aku tidak berani pamer muka kalau orang yang mengenalku membaca karangan fiksiku. Kebanyakan cerita yang kubuat bikin malu.

“Yah… dikacangin,” sungut Dyah sambil kedip-kedip pasrah sok cantik. Aku memukulkan buku catatanku ke lengannya pelan.

“Bukan apa-apa, Dyah,” sahutku sambil menahan tawa. “Nggak penting.”

“Kalau nggak penting kenapa ditutupin gitu, sih?”

Aku menggaruk hidung karena salah tingkah. “Vera malu soalnya.”

“Memangnya itu catatan apa?”

“Itu untuk hapalan,” akuku akhirnya. Dyah mengerutkan kening dengan gaya berlebihan. “Besok kan Vera udah janji mau ikut Dyah pengajian,” sambungku, “Dyah bilang mau ngenalin Vera ke organisasi Dyah juga. Siapa tahu kan mereka nyuruh Vera nyeritain kisah hidup Vera. Jadi itu untuk persiapan.”

Tawa Dyah pecah di hadapanku. “L to the O to the L, LOL. Nggak penting kali buat mereka tahu kisah hidupmu, Ver,” kekeh Dyah sampai memerah wajahnya. “Kita kan mau ikut pengajian bareng mereka, bukannya mau ikut sesi wawancara taaruf. Jih, pake-pake kisah hidup segala. Hahaha.”

Aku berdecak sebal mendengar komentar Dyah. “Kan memang taaruf namanya, perkenalan sama orang-orang organisasi Dyah.”

“Maksud Dyah taaruf yang kalau mau menikah itu,” bantah Dyah, masih belum meredakan tawanya.

“Sok tahu Dyah ah. Sesi wawancara itu yang ada buat orang ngelamar kerja,” ejekku tak mau kalah. Aku malu. Akan kuingat-ingat untuk menyobek catatan yang sudah kubuat itu saat pulang nanti.

Dan Dyah ternyata benar. Keesokan harinya, di masjid besar Al-Hayat, masjid terkenal dekat pasar Anggrek Buana, masjid elit tempat organisasi-organisasi dan pengurus-pengurus komunitas keagamaan sering mengundang penceramah-penceramah kondang dalam negeri dari ibu kota. Aku tidak banyak ditanya oleh teman-teman baru yang merupakan anggota dari organisasi pemuda keagamaan yang diikuti Dyah. Mereka tersenyum ramah padaku, tapi jelas sekali tidak peduli siapa aku. Tidak ada pertanyaan lanjutan setelah mereka bertanya tentang namaku, statusku (sebagai mahasiswa sekaligus teman sekelas Dyah maksudnya), alamatku, dan naik apa tadi aku ke masjid itu. Tidak ada yang bertanya soal pekerjaan ayahku, nama ibuku, adik-adikku, apalagi menyinggung perihal kakek buyutku yang orang Spanyol. Sama sekali tidak ada.

Aku duduk diam lesehan di sebelah Dyah yang tiap lima menit sekali mendongak dan celingukan memastikan semua orang kebagian minuman kemasan dan snack. Bagian dalam masjid penuh orang, sampai ke halaman pun tampak ramai sekali. Untungnya kami dapat tempat tepat di bawah AC. Aku tidak bisa membayangkan yang duduk di luar masjid. Meskipun dilindungi atap tenda, sebagian mereka–khususnya ibu-ibu yang datang agak lama–tetap saja harus puas berkipas-kipas menggunakan sebelaran yang dibagikan Dyah dan teman-teman organisasinya.

Sejujurnya aku kurang suka dengan keramaian. Tatapan orang-orang membuatku cemas dan takut. Jadi aku memutuskan untuk fokus ke bagian mimbar yang tidak terlalu kelihatan karena jarak yang cukup jauh dan terhalang kepala orang-orang di depanku. Tak lama kemudian pak MC berdiri membawakan jalannya acara. Semua menunggu ustaz kondang membagikan ilmunya.

***

Aku tidak ingat kapan aku akrab dengan Dyah. Kami sudah empat tahun kenal, karena selain sekampus, kami juga sama-sama mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, bahkan kami sekelas. Di antara enam orang kawanan satu geng-ku (tidak termasuk aku), yang sering disebut ‘kumpulan ibu-ibu pengajian’ oleh teman-teman sekelasku, hanya dengan Dyah aku bisa bicara plong dan tertawa ngakak. Dyah orang yang humoris, lebih tepatnya receh. Perbuatan-perbuatan halunya dan celetukan-celetukan garingnya, selalu bisa membuatku tertawa. Teman-teman satu geng-ku yang lain jarang ada yang paham guyonan tersembunyi Dyah. Mereka biasanya saling tatap-tatapan bingung saat tiba-tiba aku dan Dyah melonjak untuk tertawa.

Karena Dyah pula aku kembali tertarik menulis cerita komedi, setelah sekian lama kuangguri. Waktu SMA aku rutin menulis cerita komedi (komedi-romantis tepatnya) dan salah satunya kupublish di akun situs kepenulisan milikku karena merasa cukup pede ceritaku bakal dibaca banyak orang waktu itu. Aku memakai nama samaran. Sudah aku bilang, aku merasa berat membiarkan orang yang kenal aku tahu bagaimana tulisan fiksiku.

Seringnya aku tertawa-tawa sendiri saat menulis cerita. Ya, seperti orang gila. Tapi aku kan menulis di dalam kamar, sendirian. Dimulai dari aku membayangkan kisah cinta normal yang sering kubaca; baik dari situs-situs kepenulisan, maupun dari novel-novel chicklit dan romance yang sering kupinjam di sana-sini. Kemudian aku memikirkan sesuatu yang tak seharusnya terletak pada tempatnya. Seperti tokoh laki-laki yang seharusnya gentle, gagah, dan romantis, aku buat menjadi kebalikannya. Tokoh perempuan yang baik hati, cantik, dan dewasa, aku buat tidak seperti itu.

Ada masanya, sering bahkan setelah jadi, cerita-cerita komedi yang kutulis membuat ekspresiku datar-datar saja saat membacanya. Aku juga sering mengalami mood swing yang membuatku kehilangan selera humor dan kehabisan khalayan lucu. Kalau sudah seperti itu, hasil tulisanku yang terpaksa kubuat lucu berakhir jayus. Sesekali aku mengechat Dyah, minta nasihat darinya. Kubilang padanya aku sudah menonton stand up comedy di YouTube, tapi berakhir dengan aku menghabiskan kuota internetku untuk berlama-lama menonton video-video berdurasi panjang. Dyah biasanya malah tertawa. Bukan tertawa secara harfiah karena aku tentu saja tidak melihat wajahnya saat mengetik chatnya yang dikirim padaku.

Ini contoh chat yang pernah kukirim pada Dyah saat sedang mengalami stuck menulis cerita komedi:

Aku:

Dyah, gimana caranya melawak?

Dyah:

Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha

Kok tanya sama dyah ver 😖 gak vera liat dyah kaleum?

Aku:

Serius dyah 😅😂

Vera lagi buat cerita komedi, udh eps 10… tapi kok tiba2 hilang selera humor

Dyah:

Hmmm gimana ya ver… kl dyah liat situasi ver.. trus entah kenapa tiba” muncul sendiri 🤣🤣🤣🤣

Itu gk bs dibuat sih ver

Mesti punya sense of humour sama retjeh

Hahahahahahahahahahahahahahahahahaha

Aku:

Iya ya dyah. Biasanya kan vera ngayal sesuatu yg normal, trus vera bayangin itu jadi lucu. Trus vera ketawa sendiri. Ini kok akhir2 ini gk bisa ketawa sendiri kalo bayangin ssuatu. Pas ditulis jadi garing, gk lucu.

Dan Dyah mulai mengirimi voice note memberikan tips-tips seperti tontonlah video-video stand up comedy (seperti yang sudah kulakukan), simak percakapan para komedian, ikuti postingan akun-akun jokes receh di media sosial, dan tonton film komedi. Kebanyakan nasihatnya seperti itu. Ah, dia selalu bilang tidak semua orang menganggap 1 lawakan itu lucu. Kalau kita anggap lucu ya sudah, tertawa saja. Yang penting kita dulu yang merasa lucu.

Baru-baru ini aku dikejutkan dengan perubahan penampilan Dyah yang perlahan-lahan. Dia sudah tidak pernah memakai celana ketat dan hijab yang dipakainya pun semakin sopan dan tertutup. Dulu hijabnya sering dilepas-pakai, sekarang sudah selalu dipakai. Aku merasa salut dengan keberaniannya itu, untuk mau istiqomah berhijrah diri. Tapi memang akunya kurang pandai berbasa-basi, jadi aku tidak pernah sekali pun membahas perubahan penampilannya itu.

Aku bersikap biasa saja saat kami sesekali bertemu di kampus (tahun skripsi membuat kami dan teman-temanku yang lain jarang bertemu dengan berbagai alasan). Teman-teman satu geng-ku sering memuji Dyah makin anggun, cantik, dan sebagainya. Karena merasa tidak enak hati, kesannya cuek sekali, aku dalam sekali kesempatan ikut berkata, “Dyah anggun ya pakai gamis kayak gini.”

Dyah tersipu-sipu, membalasku dengan pertanyaan kacau, “Ver, menurut Vera, Dyah mirip nggak sama Ariana Grande?”

“Nggak, nggak mirip,” sahutku sambil mengulum senyum sambil mendongak ke arah awan yang bergerak-gerak. “Dyah miripnya sama Kendall Jenner.”

Lalu kami sama-sama menegakkan badan, meniruskan pipi, dan menaikkan alis. Berperan dan mengobrol ala Kendall Jenner dan Gigi Hadid. “Iya, kemarin aku kan habis foto shoot ya di Paris, bareng model-model Victoria Secret juga, terus mereka tuh kayak yang… hellow… Gigi gaya kamu tuh plain banget. Tatapan mata kamu tuh datar banget…. Tapi aku gak mau terpengaruh sama komentar miring mereka, Ndal. Soalnya aku kan orangnya legowo ya, Ndal, ya, mau orang bilang apa aku nikmati hidup aku aja.”

“Iya, kemarin aku juga denger, pas lagi makan di warung mie ayamnya bu Titin. Aku kan orangnya down to earth ya…. Aku orangnya humble banget. Kamu kan tahu sendiri kan, Gi. Walaupun aku seorang supermodel, warung makan tenda-tenda tetap selalu jadi pilihan aku. Terkadang aku tuh, aku… merasa kayak yang… udah, cukup, hentikan semua pujian kalian tentang kedermawanan hati aku. Aku tuh gak mau jadi orang riya.”

Teman segeng-ku, Alya, biasanya langsung memukul-mukul meja kalau aku dan Dyah kumat bertingkah seperti itu. Dia yang paling risih melihat ke-absurd-an sikap kami. Sementara teman-teman yang lain biasanya menyueki kami, pura-pura tidak kenal sambil meng-scroll up layar hape.

Kadang-kadang Dyah jadi Kendall, aku jadi Gigi. Di lain hari Dyah jadi Ariana, aku jadi Nicki. Dulu lebih sering lagi Dyah jadi ibu dari tujuh orang anak, istri seorang gubernur sederhana bertubuh mungil bernama Salman (aslinya Dyah memang naksir Salman yang dua tahun lalu menjadi ketua Senat Mahasiswa Fakultas di fakultas kami); dan aku menjadi seorang istri pengusaha minyak dari Mesir yang kami namai Mas Akhi (aslinya Mas Akhi itu adalah adik tingkat kami dari jurusan Bahasa Inggris. Kami sempat mengira dia sebagai kakak tingkat. Karena badannya tambun dan menjulang seperti raksasa, sehari-hari ke kampus selalu memakai gamis dan sorban di kepala, ala-ala pendakwah dari Timur Tengah begitu kesannya. Makanya dia kami namai Mas Akhi. Teman sekelasnya yang mengenal Dyah bilang Mas Akhi itu sebenarnya campuran Cina-Indonesia. Dia punya marga Cina yang aku pun lupa. Tapi karena penampilannya itu, aku dan Dyah sepakat terus memanggilnya Mas Akhi. Ps: aku dan Dyah juga tidak pernah ingat nama asli Mas Akhi).

“Kalian tuh gila lama-lama,” omel Alya sebal saat aku berperan sebagai istri Mas Akhi yang LDR-an dan belum juga dikaruniai anak, curhat kepada Dyah sebagai mamah muda beranak banyak, istri pak Gubernur Salman. “Orang-orang pada liatin kalian loh.”

Kalau sudah begitu, baterai dalam diri kami seperti dicabut. Kami kembali bersikap normal, melanjutkan makan mie ayam di meja warung bu Titin dengan khidmat. “Sorry, sorry,” kata kami kepada Alya yang berusaha menahan malu karena kegajean teman-temannya.

Lain di luar, lain lagi di dalam rumah. Aku tidak seekspresif saat bersama Dyah kalau di rumah. Aku masih mau tertawa, tapi sekadarnya. Banyaknya sih aku diam, sesekali marah karena ulah adik-adikku, dan berbincang panjang lebar dengan ibuku kalau dipancing lebih dulu.

Orang-orang di rumahku sebagiannya individualistis. Kami antarsesama saudara sangat sangat jarang bercanda. Mengobrol pun nyaris tidak pernah. Kebetulan pula di rumah ada banyak kamar, ada 6 kamar. Aku tidur sendiri, Alfaro tidur sendiri, Alfonso tidur sendiri, Marisela tidur sekamar dengan Alfredo dan Alonso (di tempat tidur yang terpisah), dan Alvino tidur bersama ayah dan ibuku. Kadang-kadang pula Alvino dan ibuku tidur di tempat tidur Alfredo dan Alonso, ayahku sendiri. Satu kamar dibiarkan kosong, jadinya seperti gudang. Karena itu kami merasa tidak saling membutuhkan.

Barang-barang kami punya masing-masing (walaupun terkadang aku diam-diam memakai celana Marisela, atau memakai sepatunya ke kampus; dia pun sama saja, jaket dan jilbab kesayanganku tidak pernah dikembalikannya). Tapi secara garis besar kami hampir tidak pernah saling meminjam barang. Atau pun meminta tolong kepada satu sama lain. Kecuali adikku yang nomor 4, Alfredo, dia sering memintaku dibantu mengerjakan PR-nya.

(Part 1-Alvera: Bersambung….)

©Leontopodium alpinum a.k.a Muti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s